Diberdayakan oleh Blogger.

Seguidores

Followers

RSS

bukit bintang

Bandung terkenal sebagai kota di dalam ‘mangkuk’ karena dikelilingi oleh pegunungan dan bukit. Ketika malam tiba, melihat kota Bandung dari bukit di kejauhan menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan. Sebut saja Dago Pakar, Punclut atau Caringin Tilu (Cartil) yang menjadi tujuan wisatawan saat malam. Tempat-tempat tinggi dimana pengunjung bisa melihat Bandung dari kejauhan tersebut biasa disebut “Bukit Bintang” oleh remaja-remaja yang sudah sering ke sana.














Dari namanya, Bukit Bintang, sudah bisa diartikan sebagai tempat tinggi untuk melihat bintang lebih dekat dan lebih jelas. Bintang yang dimaksud bisa berarti ribuan bintang yang ada di langit, atau lampu-lampu kota di malam hari yang seolah menjadi bintang itu sendiri.
Punclut dan Cartil misalnya, dua tempat tersebut selain menyajikan pemandangan ke arah Bandung, namun juga ada saung-saung yang menjual berbagai jenis makanan. Di Punclut, saung-saung tersebut buka 24 jam, namun di siang hari wilayah ini tidak begitu ramai karena tempatnya memang cukup jauh dari kota, justru di malam hari tempat ini ramai oleh pengunjung dari muda-mudi sampai yang sudah berkeluarga.
Daerah Dago Pakar sedikit berbeda. Karena daerah ini tidak begitu jauh dari daerah kota dan dengan nama ‘dago’ yang cukup menjual, banyak café, restoran dan hotel yang dibangun di sini. Wisatawan dari luar kota biasanya lebih memilih daerah ini karena daerah ini sudah cukup terkenal dan banyak tempat yang bisa didatangi.
Dago Pakar memang menyajikan cukup banyak tempat untuk menghabiskan malam dengan menikmati pemandangan malam kota Bandung, namun ada satu tempat di daerah Dago Pakar yang menjadi tujuan ‘wisata’ tersendiri bagi kaum muda.
Sebuah tanah lapang yang cukup luas dan ada beberapa warung yang menjual makanan di sekelilingnya. Di wilayah tersebut, dikelola oleh warga dan di tempat tersebut makanan dan minumannya juga tergolong murah dibanding dengan tempat lain di daerah Dago Pakar. Penerangan yang kurang menjadi nilai minus tersendiri bagi tempat ini, selain susah melihat ke sekeliling, juga susah untuk mengawasi pengunjung yang ada di sana.
Penerangan yang kurang itulah yang juga membuat banyak pasangan muda-mudi memilih tempat ini ketimbang tempat lain di daerah Dago Pakar. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak perlu malu jika kencan di sini, karena jarang ada orang tua yang datang ke tempat ini, jadi tidak perlu malu atau takut kena ejekan dari mereka.
Pengelola daerah tersebut solah tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Dari hasil pengamatan, sudah jelas bahwa tempat tersebut bisa menjadi tempat yang digunakan pasangan muda untuk melakukan hal-hal yang kurang baik.
“Penerangan kurang menunjang, jadi ruang publik tersebut biasa dijadikan tempat nongkrong anak muda,” ujar Dewi Mulyani selaku Kepala Bagian Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Bandung. “Mereka mencari hal lain karena sudah bosan dengan suasana perkotaan, walau memang dikhawatirkan akan ke arah negatif,” lanjutnya.
Dewi juga mengatakan bahwa pihaknya belum begitu tahu mengenai daerah-daerah yang sering dikunjungi oleh remaja-remaja di Bandung, seperti tanah lapang di Dago Pakar tadi. Namun, kalau wilayah tersebut menjadi daya tarik wisata di kalangan remaja, pihaknya bisa saja survei dan memenuhi sarana-prasarana sebaik mungkin agar tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan tadi.
Tiga tempat tersebut memang bukan tempat wisata yang resmi karena Dinas Pariwisata belum menetapkan tempat tersebut sebagai tempat wisata. Dari keterangan Dewi, jika semua aspek yang dibutuhkan suatu tempat wisata seperti, lahan parkir, tempat pembuangan dan aksesbilitas bisa terpenuhi, bisa saja tempat-tempat tersebut menjadi tempat wisata resmi dikemudian hari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar